Harga eceran beras di Kabupaten Subang di pasar telah menembus sampai Rp. 6.500,00 secara langsung menambah beban masyarakat dalam membeli sembako. Setelah kejadian ini baru Pemerintah Kabupaten Subang bersama instansi terkait ketar – ketir berusaha menanggulangi masalah tersebut. Seolah – olah tidak ada lagi solusi untuk permasalahan tersebut, biasanya instansi terkait mengeluarkan beras murah untuk menstabilkan kembali harga beras di pasaran walaupun pembelinya sebagian besar didominasi oleh para “ Bandar “ malah bisa saja terjadi “ Kesepakatan “ antara pihak instansi dengan para “ Bandar “ tersebut sehingga solusi tersebut boleh dikatakan tidak tepat sasaran.
Hanya mencoba memberikan sebuah solusi, menurut saya peranan pemerintah melalui instansi terkait lebih ditingkatkan dan kalau bisa memberikan solusi yang tepat guna dengan langsung ke “ Pelaku “ yaitu petani. Minimnya pelatihan – pelatihan untuk petani dalam bidang pertanian mungkin saja menjadi salah satu faktor penunjang melejitnya harga beras. Pelatihan yang diberikan pun harus lebih inovatif dan variatif, jangan menggunakan metode lama yang itu – itu saja karena dengan berkembangnya teknologi pada sekarang ini memungkinkan banyak metode lain yang lebih efektif.
Sebagai contoh, sampai sekarang ini ketergantungan petani kepada pupuk non organik yang ada di pasaran sangat tinggi padahal hasil yang diperoleh tidak ada peningkatan. Mungkin dulu instansi terkait lebih memasarkan produk tersebut dan itu sangat wajar karena perkembangan teknologi saat itu tidak seperti sekarang. Dikarenakan tingkat pengetahuan petani terhadap ilmu pertanian sangat minim maka diperlukan peranan instansi terkait apalagi dengan teknologi informasi saat ini sangat memungkinkan banyak pengetahuan yang lebih efektif untuk dipelajari dan dipraktekkan ke lapangan. Kenapa harus instansi yang turun langsung ke lapangan? Karena menurut pengalaman saya, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap instansi masih kuat dibandingkan kepada organisasi atau lembaga lain maka oleh karena itu, instansi harus bisa memanfaatkan keadaan tersebut mungkin bisa saja dibantu oleh organisasi atau lembaga yang berkompeten dibidang tersebut.
Pupuk organik adalah salah satu solusi yang perlu diterapkan kepada petani, karena pupuk organik memungkinkan para petani dapat membuatnya sendiri dengan memanfaatkan limbah atau tumbuhan yang ada dilingkungan dan tentu saja membantu penghematan biaya produksi kalau perlu ada semacam lahan percontohan sebagai media pembelajaran dan juga bisa menjadi tempat praktek petani agar lebih menguasai. Selain itu biasanya petani apabila lahan percontohan menghasilkan tingkat produksi yang lebih tinggi, lambat laun mereka akan beralih menggunakan pupuk tersebut sehingga instansi tidak terlalu repot untuk mengenalkannya kepada semua petani.
Penggunaan pupuk organik selain membantu penghematan biaya produksi, bisa juga menyelamatkan lingkungan karena dengan terlalu banyaknya penggunaan pupuk berbahan kimia akan merusak struktur tanah sehingga mengurangi tingkat kesuburan. Bayangkan sudah berapa tahun lahan pertanian di Kabupaten Subang menggunakan pupuk berbahan kimia ? jadi wajar saja apabila tingkat produksi beras di Kabupaten Subang mungkin di daerah lain menurun karena dampak dari pupuk berbahan kima yang sering digunakan.
Rabu, 20 Januari 2010
BERAS DAN PEMERINTAH
Diposting oleh Mimpi Anak Negeri di 1/20/2010 09:03:00 PM
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar